Minggu, 22 April 2012

Syetan Bawel dan Syetan Bisu

"Orang yang bicaranya hal-hal yang bathil, namanya syetan bawel. Sedang diam terhadap kebenaran, namanya syetan bisu.”
Kata-kata bijak di atas adalah ucapan Syaikh Abu 'Ali Ad-Daqqaq, seorang zahid, arif dan alim kelahiran Naisaburi, Irak. Imam Al-Qusyairi, seorang mufassir (ahli tafsir) dan muhaddits (ahli hadits) melengkapi kata bijak gurunya ini di bukunya Risalah Qusyairiyah pada bab As-Shumtu (diam) hal. 62, “Diam pada waktunya, sifat utama kaum lelaki. Dan berbicara pada tempatnya, seutama-utama perkara".


Sindiran Ideologis
Syetan bawel dan syetan bisu sebenarnya adalah idiom sindiran, semacam celaan secara tidak langsung. Ini gaya Ulama dalam meng- koreksi kehidupan sosialnya. Ia ingin berkata santun, tapi isinya cukup pedas bahkan menusuk. Bukannya tidak berani berkata terus terang, namun memakai bahasa idiom tampaknya lebih pas dan mengena. Terkadang bahasa kiasan lebih dirasa cocok untuk menasehati orang tertentu, utamanya para pejabat. Bagaimana pun, pejabat juga manusia, mereka adalah penumpang dalam kapal kehidupan yang fana ini. Mereka lebih butuh akan nasehat.  

Nasehat Imam Al-Ghazali dalam "ayyuha'l-walad", jangan sekali-kali bersekutu dengan penguasa yang dzalim. Imam Al-Ghazali bahkan menulis mutiara nasehat dalam "Nashihah Al-Muluk" yang beliau alamatkan secara khusus pada para penguasa.

Di tanah air kiprah Buya Hamka dalam mengkritisi kebijakan pemerintah, sangat perlu diteladani. Tulisan beliau, Bohong di Dunia (1939) dan Ghirah (terbit 1982), serta Fatwa Natal MUI Maret 1981 adalah bukti konkrit ketegasan beliau di hadapan penguasa.

Begitulah, jika ulama dan masyarakat banyak yang diam dan tidak menyampaikan nasehat, maka syetan bawel dan syetan bisu akan lenggang-kangkung di negeri ini. Ulama kekinian hendak nya mencontoh Ulama tempo doeloe yang dengan ikhlas, bijak, dan penuh wawasan menasehati para pejabat, supaya syetan bawel dan syetan bisu ini tidak benar-benar terjadi. Para Ulama yang bergaul akrab dengan penguasa, pengusaha atau pejabat lalu menjadi juru bicara atau tangan kanannya akan kehilangan cahaya ilmu, kewibawaan agama dan kemuliaan dirinya. Sebab penasehat istana lebih sering melegitimasi prilaku pe- nguasa daripada menasehati nya.(Dr. Aidh Al-Qarni dalam 'Hakadza haddatsana'z -zaman).  

Imam Thawus bin Kaisan, seorang Tabi'in, terkenal santun dan berani menyampaikan nasehat kepada Khalifah Hisyam bin 'Abdul Malik. Pada suatu waktu terjadi per- tengkaran hebat antara Khalifah Abu Ja'far Al-Manshur dengan istrinya soal poligami. Sang istri meminta keadilan. Imam Abu Hanifah diminta datang ke istana terkait perseteruan ini. Dengan kefaqihan dan keluasan ilmunya Imam Abu Hanifah berhasil mendamaikan kasus ini, dan rencana poligami pun urung di lakukan.
Imam Fudhail bin Iyadh  menyusun himpunan nasehat nya dalam satu buku bertajuk Al-Mawa'idz, (kumpulan pesan-pesan), yang antara lain beliau alamatkan kepada Khalifah Umar bin 'Abdul 'Aziz.

Aneka Macam Prilaku.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita memang sering dihadapkan pada aneka macam tabiat orang yang berlainan sekaligus multi-tipologi.
Pertama, Tukang Ponten. Kerjanya adalah menilai, mengoreksi, lalu menyalah- kan bahkan memvonis. Corak berpikirnya adalah su'udz-dzan duluan. Dihadapannya orang lain adalah lawan, bukan teman. Ibarat seperti orang  yang masuk toilet, awalnya saja yang bau, lama-lama ia nikmati juga bau itu.
Kedua, Adem-ayem atau dingin-dingin hambar. Kerja nya persuasif-pasif, duduk manis menikmati apa yang ada. Ia tak punya ide atau gagasan, kalaupun punya ia cenderung menyimpannya dengan asumsi; tidak enak sama teman.
Ketiga, Ada orang yang berpikir dan bertindak persuasif-kompromistis. Ia mengajak, menghimbau, dan menyeru dengan serius dan sungguh-sungguh. Menyampai- kan gagasannya dengan wawasan  dan cara pandang yang berbobot.

Bicara itu Perak, Diam itu Emas
Ada dua kelengkapan kepribadian mulia dalam kata bijaknya Imam Al-Qusyairi rahimahullah, yaitu tahu kapan waktunya diam, dan tahu kapan waktunya bicara. Bicara pada waktunya adalah perak, dan diam pada waktunya bagaikan emas. Nabi r bersabda, "Barang-siapa yang sedikit bicara, ia akan selamat”.(H.R. Tirmidzi).
 Wahab bin Munabbih  mengatakan, “Puncak hikmah adalah kemampuan kapan saatnya bicara dan kapan waktunya diam”. Dalam kajian 77 cabang iman, lisan merupakan cabang iman yang tidak sedikit. Iman yang 'aqil-baligh dalam tulisan para  Salafus-shaleh, manakala ia bisa melakukan takhzinul-lisan; yaitu mengontrol secara ketat lisannya.
Makna syetan bawel dan syetan bisu itu dapat ditelusuri dalam hadits Abu Umamah Al-Bahili ra, Nabi saw mengistilahkan syetan bawel itu dengan "al-fahsyu fil-kalam," orang yang perkataannya dapat merusak, karena boros dan berlebih-lebihan, tutur katanya menilep untuk meraih simpati publik. Padahal perkataan itu menurut Muhammad bin 'Ajlan (seorang yunior Tabi’in) hanya ada empat, “Menyebut asma Allah, tilawah Quran, bertanya tentang ilmu dan dijelaskan kepada yang lain, serta berbicara tentang urusan dunia yang penting bagimu."

Prilaku Umum Syetan Bawel Dan Syetan Bisu
Ada tiga perilaku Syetan Bawel dan Syetan Bisu yang paling menonjol :
Pertama, Muzabzab, (Q.S.4:142-143), yaitu manusia hipokrit; kanan-kiri  OK.
Kedua, Imma'ah, seperti buih di lautan bergantung kemana angin bertiup, cari aman.
Ketiga, Dayyuts, cuci tangan dan duduk manis ketika melihat kebatilan.
Dari Hudzaifah bin Yaman ra, Rasulullah saw bersabda, "Janganlah kalian menjadi imma'ah.Yaitu kalian berpandangan; jika manusia baik, kami juga ikut baik. Sebaliknya, jika manusia berbuat dzalim, kami pun ikut dzalim. Melainkan, ambil sikaplah, jika manusia baik, maka berbuat baiklah. Jika mereka rusak, jangan sekali-kali berbuat dzalim". (H.R. Turmudzi/1930)
Dewasa ini, fenomena syetan bawel dan syetan bisu, sudah begitu luas merajai lingkar kekuasaan. Kebijakan penguasa, aneh-aneh dan terkadang terkesan lucu. Istilah kura-kura dalam perahu, kura-kura memanjat pohon, kura-kura memanjat kayu; banyak sekali kita saksikan dalam sandiwara politik. Anehnya sebagian masyarakat semakin pragmatis, materialistis, dan liberal. Duh, syetan bawel dan syetan bisu, andaikan kalian menjadi syaithanur-rajim niscaya dengan ta'awwudz sudah bisa lari terbirit sambil terkentut-kentut.-
 
     H. Syamsul Bahri   

Dari : http://ddiijakarta.or.id/index.php/buletin/maret2012/248-syetan-bawel-syetan-bisu.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon mengisi Komentar karena kritik, saran & komentar sangat kami butuhkan...